Anak menjadi mudah dipengaruhi, karena sosok ayah “dihilangkan”

Lanjutan dari postingan sebelumnya

==========

Anak menjadi mudah dipengaruhi, karena sosok ayah “dihilangkan”

Ini Pak Andriano Rusfi yang ngomong, bukan saya,  tapi gak bisa dipungkiri saya seneng ada yang ngomong gitu. Yang ngomong memang orang yang belajar psikologi pulak.

Kenapa ada pernyataan seperti itu ?
Ini tidak lepas dari fitrah ayah-bunda.

Fitrahnya ayah :
1. Man of vision and mission
2. Penanggungjawab pendidikan : Oke, operasional harian seringkali dipegang ibu, tetapi sebenarnya yang bertanggungjawab pada pendidikan anak adalah ayah. Yang akan dimintai pertanggungjawaban nanti oleh pencipta adalah ayah.
3. Konsultan pendidikan : Ayah juga bisa dibilang konsultan pendidikan, ketika ibu yang memegang operasional harian mentok ketika menghadapi anak, biasanya ide-ide ayah lebih kreatif, lebih fresh.
4. Sang ego dan individualitas :
Inilah poin penting yang saya jadikan judul. Anak usia 0-7thn adalah masanya mengakui ke-aku-annya, merasa nyaman dengan dirinya, belajar mempertahankan haknya. Di usia ini jangan memaksa anak untuk mudah melepaskan haknya.
“Udah tho dek, mbok ya dikasih ke temannya, berbagi gitu lho”
Weits, anak perlu belajar bahwa apa yang memang miliknya, adalah hak dia mau diapain, perlu diajarkan berbagi tapi tidak perlu dipaksa.
Anak yang tidak ada pengaruh ayah di usia ini, cenderung tidak pede dengan dirinya sendiri, akibatnya mencari sosok lain untuk ditiru. Mudah dipengaruhi, mudah ikut-ikutan.
5. Pembangun sistem berpikir : membantu anak urusan logika
6. Penegak profesionalisme : mengajarkan pada anak tentang keberanian
7. Supplier maskulinitas : anak perempuan dan anak laki-laki sama-sama perlu stok maskulinitas.
Dekatkan anak laki-laki sampai usia 10thn ke sosok ayah. Anak perempuan justru di usia baligh 11thn ke atas, dekatkan ke ayah, agar tidak mencari sosok ayah pada laki-laki lain.
8. The person of tega : pada banyak sisi biasanya ayah lebih tega daripada ibu, keseimbangan ini perlu.

Sementara itu fitrah ibu juga tidak kalah penting, yaitu :
1. Pelaksana harian pendidikan : biasanya ibu lebih telaten dan teliti dalam pelaksanaan pendidikan harian anak.
2. Person of love and sincerity : nah ini sebagai penyeimbang sang ego dan individualitas dari ayah. Selain pede dan punya rasa ke-aku-an, anak juga penuh cinta dan tulus.
3. Sang harmoni dan sinergi
4. Pemilik moralitas dan nurani
5. Supplier femininitas : penyeimbang maskulinitas, anak cowok juga perlu stok femininitas, dengan porsi yang pas.
6. Pembangun hati dan rasa
7. Berbasis pengorbanan
8. Sang pebasuh luka

Tentu saja yang diharapkan adalah keseimbangan antara peran ayah dan ibu dalam mendampingi anak-anaknya. Kehilangan salah satunya akan membuat tidak seimbang.
Bukan hanya kehilangan secara harfiah, tapi kehilangan sosok ayah atau ibu karena mereka sibuk melakukan hal lain selain mendidik anaknya.
Sekali lagi, tanggungjawab orangtua adalah mendidik anak sampai aqil baligh, agar nanti doa anak sholeh yang dipanjatkan sampai pada kita, karena terutama dalam doa ada bagian ini “sebagaimana mereka mendidik dan menyayangiku SEWAKTU AKU KECIL”
Jika kita tidak hadir saat mereka kecil, akankah doanya sampai ke kita, wallahualam.

Oya, dari sekian banyak poin yang dibahas, kenapa saya mengambil judul di atas ?
Yah, itu yang nancep di ingatan saya, yang mau nulis membahas poin yang lain, silakan tulis sendiri, jangan search kemudian share dan copy paste tulisan orang lain:)

Peace ….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s